Selasa, 27 Agustus 2013

Ciputra Entrepreneurial Journey

Menurut Pak Ciputra, visi adalah salah satu kekuatan menonjol dari seorang pemimpin dapat digambarkan sebagai kemampuannya dalam "membaca." Membaca, yang dimaksud di sini tentu bukan berarti sekadar membaca sebatas dengan apa yang tampak di permukaan, melainkan mampu mencapai kedalaman. Dalam pembacaan, seberapa dalam seseorang bisa membaca sesuatu simetri dengan seberapa dalam ia bisa mencapai dirinya sendiri. Itulah sebabnya, orang yang mampu membaca sesuatu secara mendalam akan mampu pula merefleksikan apa yang dibacanya untuk perkembangan dirinya. Bagi Pak Ciputra, visi adalah kemampuan untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda. Ibaratnya jika ada tiga orang yang melihat seekor ayam yang gemuk. Orang pertama berpikir bahwa ayam tersebut apabila digoreng dan dimakan pastilah nikmat. Orang kedua yang kelaparan mengatakan bahwa jika ayam itu dicuri, maka akan membantu mengatasi masalah laparnya, sedangkan orang ketiga berpikir untuk diternakkan, sehingga ia akan mendapat keuntungan yang makin banyak. Pak Ciputra menekankan bahwa kita harus bisa melihat lebih dalam, lebih luas dan lebih tinggi, melihat dengan imajinasi. Melalui kemampuannya "melihat” lebih jauh dari apa yang sekadar tampak di permukaan itulah yang memungkinkan proyek-proyek yang ditanganinya selalu sukses dan sebagian besar dapat dikategorikan sebagai pelopor. Taman Impian Jaya Ancol adalah salah satu contohnya. Kawasan itu dahulu merupakan tempat peristirahatan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Adriaan Valckenier pada abad ke- 17, yang kemudian popular sebagai tempat wisata. Namun pada masa penjajahan Jepang tidak terurus, sehingga menj adi kotor, kumuh, berlumpur, dan penuh rawa, sehingga ditinggalkan orang. Bung Karno, Presiden RI pertama menginginkan agar Ancol menjadi sebuah kawasan wisata. Ciputra yang selalu mengikuti perkembangan berita tentang Ancol melalui surat kabar bercita-cita membangun kawasan tersebut menjadi "Disneyland." Berbekal visi itulah pada tahun 1967, Ciputra yang menjabat sebagai CEO PT. Pembangunan Jaya mengajukan konsep pengembangan kawasan Ancol kepada Ali Sadikin, Gubernur Jakarta saat itu. Bang Ali, yang sangat ia kagumi sebagai seorang government entrepreneur langsung menyetujui dan berpesan: "Jadikan Ancol setaraf dengan Disneyland- nya Amerika." Dari keseluruhan luas 500 hektare lahan yang ada, Ciputra tidak memilih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar